Mungkin orang berpandangan dalam
menyelesaikan masalah matematika hanya ada satu cara atau satu jawaban yang
benar. Kontradiksi dengan masalah pada kehidupan sehari-hari. Masalah
sehari-hari dapat saja diselesaikan dengan berbagai cara yang benar, tetapi masuk
akal dan dapat dipertanggung jawabkan. Demikian juga hasil atau jawaban masalah
itu dapat saja bervariasi tetapi diterima kebenarannya. Perbedaan cara
memandang masalah ini yang memberi kesan bahwa mempelajari matematika
menciptakan karakter seseorang yang kaku, tidak kreatif, dan berpikir linear.
Padahal pandangan itu tidaklah benar. Matematika dapat mengarahkan berpikir
fleksibel, yaitu berpikir dengan mempertimbangkan berbagai cara dan semua cara
tersebut dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Seorang dosen muda memasuki
ruang kelas. ”Bagaimana sudah dicoba.... dibuktikan teorema-teoremanya?”,
selorohnya ingin tahu setelah menyampaikan salam dan basa-basi pengantar
kuliah. Mahasiswa membuka catatan dan bukunya, ada yang diam atau bergeming
mengguman, ”sudah..”. ”Baiklah kita lanjutkan Teorema 2.3 berikut, kita akan
coba buktikan...”, lanjut sang dosen. Mata kuliah ini memang ketat dan mewakili
warna karakteristik matematika yang sesungguhnya, yaitu menekankan pola
berpikir deduktif-aksiomatik, objeknya abstrak, simbol yang kosong arti,
bertumpu kesepakatan, memperhatikan semesta pembicaraan, dan konsisten dalam
sistem. Pola pikir deduktif-aksiomatik didasarkan pada prinsip deduktif yang
dimulai dari sesuatu yang umum menuju ke hal-hal khusus dan aksiomatik yang
menekankan pada sistem hierarkhis urutan konsep matematika, yaitu dimulai dari
aksioma (pernyataan yang diterima tanpa dibuktikan), dan teorema-teorema, lemma
atau corrolary (pernyataan yang harus dibuktikan). Objek matematika abstrak
maksudnya objek tersebut tidak dapat diraba atau dirasakan dengan indera, objek
tersebut berada dalam pikiran manusia. Simbol-simbol yang digunakan belum
memiliki arti jika tidak diaplikasikan pada bidang lain. Variabel x, y, z yang
dimanipulasi dalam matematika hanya bermakna untuk matematika saja, jika tidak
bersentuhan dengan bidang lain. Suatu sistem dalam matematika bertumpu pada
kesepakatan-kesepakatan yang telah dibangun selama berabad-abad oleh para ahli
matematika. Bagi siswa atau mahasiswa kesepakatan itu ditunjukkan ketika
belajar matematika mulai di tingkat dasar sekolah. Sehingga tidak ada alasan
mengatakan ”2 + 3 = 5, saya tidak sepakat, karena belum ada surat perjanjian
untuk saya”. Kesepakatan itu bukan kesepakatan hukum formal yang tertulis, tetapi
kesepakatan dalam sistem matematika. Jika tidak sepakat, berarti bisa dibangun
sistem berbeda yang didalamnya tidak ada kontradiksi. Dengan kata lain perlu
memperhatikan semesta pembicaraan atau sistem yang melingkupi konsep tersebut.
Dalam lingkup bilangan berbasis 4, maka 2 + 3 = 5 adalah jawaban yang salah,
tetapi 2 + 3 = 1 adalah jawaban benar karena angka yang digunakan pada basis 4
adalah 0, 1, 2, dan 3 saja. Dalam sistem tersebut harus konsisten dan tidak
kontradiksi. Hasil dari 2+ 3 = 5 dan 2 + 3 = 1 tidak kontradiksi karena sistem
yang digunakan berbeda. Penjumlahan pertama menggunakan basis 10 tetapi
penjumlahan kedua menggunakan basis 4. Setelah meminta satu mahasiswa
membuktikan dan terbukti benar, sang dosen tersebut memancing mahasiswa dengan bertanya
”Adakah cara lain?”. Setelah menunggu dan mengeliling mahasiswa yang mungkin
mempunyai cara penyelesaian tetapi tidak berani ke depan kelas, akhirnya ada
beberapa mahasiswa yang berani mencoba. Hasil tersebut didiskusikan karena
pembuktian itu bisa memanfaatkan teorema lain atau menggunakan teknik
pembuktian yang berbeda misalkan secara langsung atau tidak langsung. Sang
dosen melanjutkan perkuliahan dan selalu mengulang pernyataan ”ada cara
lain?”., sehingga mahasiswa berpikir untuk mencari cara lain yang benar dan
dapat dipertanggungjawabkan. Karakter yang dibangun sebenarnya adalah kemampuan
berpikir fleksibel yang merupakan indikasi kemampuan berpikir kreatif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar